Skip to main content

Posts

COVID-19 (part 2) - Ruang Sendiri

(lanjut yang sebelumnya) I'm still at home because the corona virus disease is still here . Selama #dirumahaja dan wfh banyak sekali hal-hal yang berkutat dalam pikiran ku. Sangking banyaknya sampai rasa-rasanya aku merasa perlu untuk lebih sering menuliskannya disini. Ngomong-ngomong, kemarin aku mengganti halaman blog ku, yang semula ku beri nama " Note to Self " yang berarti catatan untuk diri ku sendiri, namun aku baru menyadari sepertinya aku memiliki nama blog yang lebih pas untuk menggambarkan apa sebenarnya isi blog ku ini. Apa tujuan aku menulis, entah itu tentang keluh kesah atau segala hal yang nantinya aku harapkan dapat menjadi catatan diriku juga di masa yang akan datang. Ya, saat ini blog ku berganti menjadi "Ruang Sendiri".  Kenapa "Ruang Sendiri"? Simple , karena tulisan yang ku cantumkan dalam blog ini memang ruang ku untuk benar-benar sendiri. Mencurahkan segala yang aku pikirkan, yang tidak bisa terucap oleh kata, yang aku juga...
Recent posts

COVID-19 (part 1)

Ini adalah hari ke-sekian sejak tanggal 17 Maret 2020 aku melakukan wfh ( work from home ) karena wabah pandemi Covid-19 atau corona. Aku full tidak ke kantor karena Jakarta tempat tinggal ku dinyatakan sebagai daerah episentris penyebaran virus corona. Sejak hari pertama aku melakukan wfh, aku berusaha untuk tetap berpikir positif dan tidak berprasangka macam-macam. Namun, menghentikan secara total aktivitas ku di kantor dan aktivitas lainnya saat itu merupakan sesuatu yang tidak mudah. Aku yang doyan ke luar rumah, melakukan aktivitas di luar bahkan di hari Minggu sekalipun -walaupun kalau sedang lelah terkadang tidak ingin keluar rumah-, terbiasa bersibuk ria di kantor, bertemu rekan-rekan kantor, teman-teman organisasi dan lain sebagainya seketika harus stay at home for undefined time. Sedih? iya, bahkan di setiap gerakan sholat ku pada hari-hari awal aku wfh air mata selalu tumpah. Bertanya-tanya kenapa dampak virus corona pada akhirnya bisa benar-benar aku rasakan. Peristiwa...

Being a (secret)ary

Menjadi seorang sekretaris memang profesi yang aku ingin jalani sejak beberapa tahun lalu setelah aku lulus dari bangku perkuliahan. Aku merasa bahwa aku ingin memiliki profesi sebagai sekretaris sesuai dengan latar belakang pendidikan, setidaknya sekali seumur hidup agar aku benar-benar bisa mengimplementasikan ilmuku di  bangku perkuliahan pada bidang sekretaris tersebut. Tahun lalu aku mencoba apply kerja sebagai sekretaris di beberapa perusahaan swasta dan 1 perusahaan BUMN (yang sekarang aku jalani). Beberapa diantaranya aku gagal, tidak sesuai kualifikasi mungkin, namun aku sempat tidak menyangka bahwa aku diterima sebagai seorang sekretaris di salah satu perusahaan BUMN dibidang percetakan uang. Aku merupakan 5 orang sekretaris yang diterima diantara mungkin puluhan orang yang mendaftar saat itu, ya PERURI. Itulah tempat ku sekarang bekerja, as a (secret)ary. Namun nyatanya seiring berjalannya waktu, aku bukanlah sekretaris yang sesungguhnya. Sebagai seseorang yan...

#dearmysmartboss

Kemarin-kemarin aku berdoa supaya Allah memperbaiki hubungan kerjaku dengan atasanku, menjadikan aku dengannya partner kerja yang saling support  dan solid seperti dulu kata beliau saat pertama kali aku menemuinya, namun sekarang aku ingin berdoa supaya aku diberikan atasan dalam pekerjaan ku, lebih baik dari yang sekarang. Aku sudah lelah menerka-nerka apa yang ada di dalam pikiran beliau, kenapa beliau memutuskan hal tersebut, aku selalu berusaha belajar dari kesalahan yang lalu atas tegurannya, mencoba mengikuti kemauannya, melakukan hal terbaik semampuku, mencoba menerima apapun yang beliau putuskan karena aku tahu beliau orang pintar, berwawasan luas, mandiri dan lain sebagainya. Tapi entah kenapa, semua hal yg kulakukan dimatanya seperti tidak pernah ada maknanya, semua usaha yang ku usahakan semaksimal mungkin, ikhlas ku kerjakan, tidak meminta sedikitpun pujian atau penghargaan, tapi paling tidak ia bisa tahu kalau aku ini selalu berusaha lakukan yang terbaik walau...