(lanjut yang sebelumnya) I'm still at home because the corona virus disease is still here. Selama #dirumahaja dan wfh banyak sekali hal-hal yang berkutat dalam pikiran ku. Sangking banyaknya sampai rasa-rasanya aku merasa perlu untuk lebih sering menuliskannya disini. Ngomong-ngomong, kemarin aku mengganti halaman blog ku, yang semula ku beri nama "Note to Self" yang berarti catatan untuk diri ku sendiri, namun aku baru menyadari sepertinya aku memiliki nama blog yang lebih pas untuk menggambarkan apa sebenarnya isi blog ku ini. Apa tujuan aku menulis, entah itu tentang keluh kesah atau segala hal yang nantinya aku harapkan dapat menjadi catatan diriku juga di masa yang akan datang. Ya, saat ini blog ku berganti menjadi "Ruang Sendiri".
Kenapa "Ruang Sendiri"? Simple, karena tulisan yang ku cantumkan dalam blog ini memang ruang ku untuk benar-benar sendiri. Mencurahkan segala yang aku pikirkan, yang tidak bisa terucap oleh kata, yang aku juga tidak ingin semua orang tahu karena dalam pemahamanku bahwa tidak semua orang (termasuk orangtua dan keluarga sekalipun) harus tahu segala sesuatu hal yang aku rasakan, aku alami. Entah itu masalah atau apapun yang ada di dalam pikiran ku. Karena aku tahu bahwa tidak semua orang juga paham dengan apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, dan tidak semua orang mau tahu tentang kesusahan atau kesedihan manusia lain. Yang aku tahu kebanyakan orang hanya selalu mau tahu kabar bahagia, berita bahagia, kesuksesan dan lain sebagainya. Hal kecil misalnya, tidak semua orang mau tahu tentang kegagalan yang sedang dialami oleh orang lain. Tidak semua orang mau tahu bagaimana rasanya perjuangan dan proses yang dilalui oleh setiap orang. Semua orang yang di luar ya hanya melihat dari luar. Kalau dia gagal berarti dia bodoh misalnya, kalau dia sukses berarti dia pintar, instan (kayak mie rebus), dan itu sudah ku rasakan sejak aku kecil.
Tetapi, pada pada dasarnya aku memilih nama "Ruang Sendiri" karena aku tidak sengaja mendengarkan lagu dari penyanyi jazz kenamaan Indonesia, Tulus yang berjudul "Ruang Sendiri". Aku sudah mendengarnya berkali-kali karena aku termasuk penikmat lagu-lagu tulus. Tetapi saat aku dengarkan lagi lagu itu secara tidak sengaja, aku teringat bahwa lagu itu sangat related dengan kondisi saat ini. Anjuran #dirumahajadulu sepertinya mengingatkan kita bahwa semua manusia pada hakikatnya perlu kembali ke "ruang sendiri"nya dulu, sebagai waktu untuk refleksi diri. Kemudian aku pun teringat halaman blog ku, dan ya sepertinya "ruang sendiri" merupakan nama yang tepat. 😊
Tetapi, pada pada dasarnya aku memilih nama "Ruang Sendiri" karena aku tidak sengaja mendengarkan lagu dari penyanyi jazz kenamaan Indonesia, Tulus yang berjudul "Ruang Sendiri". Aku sudah mendengarnya berkali-kali karena aku termasuk penikmat lagu-lagu tulus. Tetapi saat aku dengarkan lagi lagu itu secara tidak sengaja, aku teringat bahwa lagu itu sangat related dengan kondisi saat ini. Anjuran #dirumahajadulu sepertinya mengingatkan kita bahwa semua manusia pada hakikatnya perlu kembali ke "ruang sendiri"nya dulu, sebagai waktu untuk refleksi diri. Kemudian aku pun teringat halaman blog ku, dan ya sepertinya "ruang sendiri" merupakan nama yang tepat. 😊
Kembali tentang berbagi cerita, tentang proses, tentang kegagalan dan tentang keberhasilan; karena pengalaman masa kecil, aku jadi paham bahwa semua hal itu tidak perlu dibagikan secara gamblang kepada orang lain. Berbicara tentang kegagalan, apalagi disaat situasi sulit seperti ini banyak sekali orang pastinya yang sedang mengalami hal itu; gagal dalam karir, gagal dalam dunia bisnis atau usaha yang sedang mereka jalani, gagal dalam banyak hal. Faktornya aku yakin sebagian besar menganggap karena alam semesta (lebih tepatnya karena virus corona yang saat ini sedang mewabah di seluruh negara belahan dunia). Alam semesta saat ini mungkin memang sedang memberi ujian. Alam semesta mungkin sedang mengetes para penduduk bumi yang selama ini egois satu sama lain, sibuk dengan tujuan duniawinya, sibuk mengejar karir, mengejar ambisi. Lupa bahwa manusia tinggal di alam. Alam yang selama ini selalu memberikan apapun yang dibutuhkan manusia, tapi manusia lupa akan hal itu.
Aku pun sama, di saat-saat keadaan seperti ini aku mulai berpikir, mungkin selama ini aku terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan yang pada akhirnya aku melupakan hal-hal lain. Pekerjaan yang sedari awal aku merasa selalu terengah-engah untuk melakukan segala sesuatunya. Aku yang masih dalam dalam proses belajar, selalu berusaha melakukan yang terbaik tapi nyatanya hal tersebut ada dampak kurang pada jiwa dan hatiku. Kritik sana-sini sebagai seorang sekretaris, ujaran yang kadang tidak bikin enak hati dan telinga (walaupun itu dalam konteks bercanda), selalu merasa tidak punya kapasitas yang mumpuni karena aku menganggap bahwa atasanku kepintarannya jauh diatas rata-rata dan merasa bahwa apapun yang dia katakan, logika dia berpendapat adalah "benar". Aku pun jadi seperti terbatas mengutarakan pendapat, karena takut dihujat dan lain sebagainya. Semua itu ternyata mempengaruhi psikologi ku. Aku jadi mudah emosi, mudah stres, jadi semakin sering berspekulasi dan berprasangka, meragukan kemampuan diri sendiri, less confident.
Walaupun memang disamping itu semua, aku pasti pernah mengalami kejadian-kejadian yang membuatku tertawa dan merasa bahagia; guyonan dengan rekan kerja bahkan dengan atasan (sesekali), merasa senang kalau tiba-tiba di traktir atasan karena berharap itu merupakan apresiasi kecil yang setidaknya beliau tidak menganggapku hanya angin lalu. Tapi entah kenapa, yang lebih sering melekat di kepalaku akhir-akhir ini adalah yang buruk-buruknya dibanding hal-hal yang membuatku senang. Aku tidak tahu, apakah ada yang salah dengan kepalaku, dengan jalan pikiran ku, dengan hatiku, atau memang karena kejadian-kejadian buruk yang aku alami sebenarnya jauh lebih melekat di ingatan karena rasanya begitu dalam dan pahit kenangannya dibanding hal-hal yang baiknya. Sekali lagi, aku pun tidak tahu. Yang jelas, semenjak awal aku mulai merasa ada yang tidak beres dengan ini semua, aku seperti berbicara pada diriku sendiri bahwa kelak setelah aku selesai bekerja di Peruri -perusahaan tempat aku bekerja saat ini- aku akan melupakan semuanya, semua hal, bahkan semua manusia yang pernah aku kenal disana. Rasa-rasanya seperti kenangan pahit yang sudah aku terima dan tidak ingin aku ingat-ingat lagi (ya Allah ampuni aku jika aku masih punya pemikiran spt ini).
Walaupun begitu, aku tetap bersyukur sekali kepada Allah SWT karena telah memberikanku kesempatan bekerja sebagai sekretaris. Aku bersyukur bahwa Allah seperti mengabulkan lantunan doa-doa yang ku panjatkan sejak dulu saat akan lulus dari bangku perkuliahan. Doa ku saat itu sangat materialistis memang, "aku ingin mempunyai penghasilan dalam pekerjaan ku kelak yang nominalnya sama dengan biaya kuliah ku setiap semester", dan ya, alhamdulillah, doaku terkabul. Terkadang pun dalam pekerjaan ku saat ini, aku mendapat nominal gaji yang lebih besar dari biaya semester kuliahku. Tapi nyatanya itu semua bukan ukuran dan aku mengambil pelajaran dari ini. Sekali lagi, aku percaya ini semua merupakan jalan yang sudah Allah tentukan kepadaku. Aku percaya bahwa Allah pun sampaikan pesan kepadaku tentang semua hal baik dan hal buruk atas apa yang terjadi dalam pekerjaanku. Sekali lagi, aku percaya dengan Allah SWT. Aku pun percaya jalan aku wfh saat ini merupakan sesuatu yang sudah ditentukan oleh-Nya. Aku percaya dari setiap kegagalan dan keburukan yang aku alami, banyak pelajaran yang bisa aku petik. Alhamdulillah.
Comments
Post a Comment