Ini adalah hari ke-sekian sejak tanggal 17 Maret 2020 aku melakukan wfh (work from home) karena wabah pandemi Covid-19 atau corona. Aku full tidak ke kantor karena Jakarta tempat tinggal ku dinyatakan sebagai daerah episentris penyebaran virus corona. Sejak hari pertama aku melakukan wfh, aku berusaha untuk tetap berpikir positif dan tidak berprasangka macam-macam. Namun, menghentikan secara total aktivitas ku di kantor dan aktivitas lainnya saat itu merupakan sesuatu yang tidak mudah.
Aku yang doyan ke luar rumah, melakukan aktivitas di luar bahkan di hari Minggu sekalipun -walaupun kalau sedang lelah terkadang tidak ingin keluar rumah-, terbiasa bersibuk ria di kantor, bertemu rekan-rekan kantor, teman-teman organisasi dan lain sebagainya seketika harus stay at home for undefined time. Sedih? iya, bahkan di setiap gerakan sholat ku pada hari-hari awal aku wfh air mata selalu tumpah. Bertanya-tanya kenapa dampak virus corona pada akhirnya bisa benar-benar aku rasakan. Peristiwa pertama kali dalam hidup (dan semoga terakhir) yang tidak akan pernah aku lupakan. Berusaha menerka-nerka kenapa harus begini, kenapa harus begitu, bahkan sampai mengulas rekaman-rekaman peristiwa sebelumnya yang dimana para menteri dan bapak Presiden sekalipun seharusnya sudah aware sejak awal virus corona ditetapkan sebagai wabah virus yang membahayakan bagi seluruh negara-negara di dunia termasuk Indonesia oleh WHO tetapi beliau-beliau itu malah abai, jumawa, menyangkal bahwa virus ini tidak akan masuk ke Indonesia.
Namun begitulah hidup, realita kadang tidak sesuai dengan ekspektasi. Virus ini akhirnya masuk ke Indonesia sejak diumumkan pertama kali oleh bapak Presiden yang dimana pasien 01 itu merupakan warga kota Depok (walaupun mungkin sebelum pengumuman itu, virus ini sebenarnya sudah menjangkiti penduduk bumi pertiwi namun pemerintah menutup mata, entahlah). Sejak itulah, gerakan virus ini sudah mulai terdeteksi banyak pihak, yang pada akhirnya membuat Ibukota sebagai zona merah (bahkan mungkin hitam) karena ditetapkan sebagai daerah dengan kasus penyebaran terbanyak se-Indonesia. Ya, mungkin karena penduduk Jakarta itu sangat buanyak, menjamur. Jakarta sebagai pusat dari segala pusat, pusat ekonomi, pemerintahan, dan lain sebagainya. Jakarta sebagai melting port, tempat keluar masuknya para WNA ataupun WNI yang datang dari belahan dunia lain, berbagai macam penduduk Indonesia tumpah ruah di Jakarta. Jadi, wajar saja kalau Jakarta menjadi tempat terbanyak penyebaran virus ini, dan aku sebagai salah satu penduduk yang tercatat sebagai warga Ibukota terkena imbasnya.
Atasanku waktu itu bilang, aku masih ingat, sejak Jakarta dinyatakan sebagai zona merah beliau berkata aku seharusnya di rumah, tidak kemana-mana, khawatir nantinya aku membawa virus (kalau kata-kata ini ku dengar dari rekan kerja ku, atasanku bilang kepadanya). Seketika langsung ambyar hatiku, langsung bertanya-tanya, apakah harus sampai sebegitunya? Aku alhamdulillah saat itu masih sehat, pada waktu paginya aku sempat ditanya oleh atasanku aku ke kantor menggunakan moda transportasi apa dan ku bilang dengan jujur bahwa aku menaiki ojek online dan menggunakan mobil kantor untuk menuju kantor ku di Karawang dan ya disitulah aku mendapatkan statement bahwa seharusnya aku di rumah dan tidak perlu menggunakan trasportasi umum termasuk ojol sekalipun. Tapi ya mau bagaimana, aku memang sudah biasa kemana-mana sendiri menggunakan transportasi umum, tidak ingin merepotkan orang. Sampai malamnya aku masih mencoba bernegosiasi dengan atasan ku bahwa aku tetap bisa ke kantor kok karena salah satu Kadep yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan ku mengajak ku untuk berangkat bareng selama kondisi seperti ini, tetapi sekali lagi, namanya hidup, realita terkadang tidak sesuai dengan ekspektasi, yang ku dapat adalah penolakan.
Sejak saat itu sampai dengan aku menulis tulisan ini aku masih melaksanakan wfh. Korban wabah virus corona di Indonesia sampai dengan saat ini sudah mencapai angka 1000 lebih, kurva-nya tidak berhenti naik. Jumlah kematian bertambah, jumlah yang sembuh juga bertambah tapi sedihnya tingkat kematian jauh lebih banyak daripada jumlah pasien yang sembuh (cek gambar dibawah, data diambil tanggal 1 April 2020), jauh memang, tapi kalau menurut Merry Riana, "harus tetap optimis."
Pada awalnya aku berniat untuk mencari pekerjaan sampingan sebagai freelancer online dimana pekerjaannya itu bisa aku kerjakan di rumah karena aku tahu, pekerjaan ku di kantor tetap tidak akan bisa aku kerjakan di rumah, bahkan hampir tidak ada, sangat jarang. Sewaktu ada pembukaan volunteer dalam rangka penanganan corona yang diinisiasi oleh ilumni UI aku pun sempat daftar tetapi pada akhirnya aku tidak jadi ikut karena berpikir 2 kali untuk keluar rumah dimana pastinya kalau keluar rumah maka aku akan menggunakan moda transportasi umum. Kemudian ada lagi, pembukaan volunteer untuk berbagai macam tenaga medis dan non medis yang diiniasi oleh Kementerian BUMN dimana volunteer-volunteer tersebut akan ditempatkan di rumah sakit darurat wisma atlet. Aku sangat excited untuk bisa bergabung, tetapi sayangnya terhalang restu mama. Aku memilih untuk menurut walaupun pada akhirnya muncul kekecewaan dalam diri karena tidak bisa ikut bergabung.
Seiring berjalannya waktu, semakin kesini aku semakin merenung entah ini benar atau tidak. Mungkin #dirumahajadulu merupakan salah satu jalan tepat yang Allah telah tetapkan untukku di saat keadaan seperti ini. Aku memang tidak pergi ke kantor sama sekali, tidak bertemu teman-teman, tidak keluar ke pusat perbelanjaan atau tempat-tempat umum lainnya, tetapi sesekali aku keluar untuk membeli kebutuhan konsumsi bahan makanan untuk mama dan aku. Aku ke pasar setiap 1 minggu sekali dengan berjalan kaki -sekalian olahraga- dan itu ku lakukan sepagi mungkin supaya menghindari kerumuman yang terlalu banyak. Aku merasa dengan adanya aku dirumah setidaknya aku bisa memastikan bahwa mama tetap bisa mengkonsumsi makanan yang baik apalagi saat kondisi seperti ini. Aku bertugas untuk ke luar membeli kebutuhan makanan untuk 1 minggu; buah, sayur, ikan, dan sedikit jajanan pasar untuk sarapan sesekali dan mama yang selalu ku minta untuk memasak bahan makanan itu.
Setiap pagi pun sekarang aku punya kebiasaan baru, membuat jus buah dari bahan-bahan yang aku beli di pasar, sebagai asupan vitamin untuk menjaga supaya antibodi dalam tubuh bisa kuat melawan virus yang ada di luar. Setiap keluar rumah pun aku aware untuk segera membersihkan badan ku, baju yang sudah kupakai langsung masuk ke ember cucian. Aku tidak bisa bayangkan jika aku saat ini di Karawang dan tidak di rumah, bagaimana nasib mama? Sedangkan orangtua yang usianya seperti mama sangat rentan terjangkit virus ini karena antibodi mereka tidak sekuat kami-kami yang masih muda, belum lagi ada penyakit bawaan atau penyakit karena faktor usia. Jadi lebih baik aku yang keluar rumah untuk membeli semua kebutuhan dapur sedangkan mama stay at home dan bagian yang mengolah bahan-bahan dapur.
(lanjut di blog berikutnya, takut pusing bacanya kalau kepanjangan)
Comments
Post a Comment