Menjadi seorang sekretaris memang profesi yang aku ingin jalani sejak beberapa tahun lalu setelah aku lulus dari bangku perkuliahan. Aku merasa bahwa aku ingin memiliki profesi sebagai sekretaris sesuai dengan latar belakang pendidikan, setidaknya sekali seumur hidup agar aku benar-benar bisa mengimplementasikan ilmuku di bangku perkuliahan pada bidang sekretaris tersebut.
Tahun lalu aku mencoba apply kerja sebagai sekretaris di beberapa perusahaan swasta dan 1 perusahaan BUMN (yang sekarang aku jalani). Beberapa diantaranya aku gagal, tidak sesuai kualifikasi mungkin, namun aku sempat tidak menyangka bahwa aku diterima sebagai seorang sekretaris di salah satu perusahaan BUMN dibidang percetakan uang. Aku merupakan 5 orang sekretaris yang diterima diantara mungkin puluhan orang yang mendaftar saat itu, ya PERURI. Itulah tempat ku sekarang bekerja, as a (secret)ary. Namun nyatanya seiring berjalannya waktu, aku bukanlah sekretaris yang sesungguhnya.
Sebagai seseorang yang seharusnya paling banyak mengetahui rahasia perusahaan termasuk rahasia si atasan, karena pekerjaanku sesuai dengan namanya a secret(ary), aku justru sebaliknya, tidak banyak mengetahui hal apapun, rahasia-rahasia ataupun sekedar pembahasan yang mungkin bukan rahasia sekalipun antara atasanku (Kadiv) dan jajaran dibawahnya (para Kadep), aku belum tentu bisa mengetahuinya. Yang awalnya aku (sempat) dimasukkan di grup whatsapp Kadiv dan Kadep, pertengahan tahun lalu aku di kick dari grup, entah kenapa, entah ada apa, tanpa komunikasi awal, tanpa penjelasan dan lain sebagainya. Itu kejadian pilu pertama yang membuatku sempat bertanya-tanya dan masih jelas dalam ingatanku saat kejadian itu aku sedang berada di kelas BSQ YISC Al-Azhar, namun dalam hati dan pikiran aku berusaha untuk berpikir positif dan tidak berprasangka yang aneh-aneh.
Ada lagi beberapa kejadian lain yang kalau diceritakan rasanya membuat dadaku sesak, tidak mengerti dengan apa yang terjadi dan lain sebagainya. Dan semakin kesini, semakin aku bertanya dalam hati, kenapa aku? Kenapa aku diterima sebagai sekretaris di perusahaan ini? Kenapa aku yang menjadi sekretaris beliau? Kenapa juga harus aku yang punya pengalaman pahit seperti ini saat aku baru pertama kali merasakan sebagai seorang sekretaris?
Jujur, ini membuatku trauma. Berulang kali aku katakan, aku tidak ingin menjadi sekretaris lagi, aku tidak ingin profesi ini lagi. Aku kapok, aku lelah, bukan karena pekerjaanku, tapi aku lelah karena di saat aku selalu merasa berusaha melakukan yang terbaik semampuku, walaupun aku tahu masih banyak kesalahan dan kekurangan, di saat aku berusaha abaikan semua kejadian buruk yang aku alami selama 1 tahun lebih ini dalam pekerjaanku, aku berusaha untuk bersabar dan percaya semua ini akan berlalu dan aku akan dapatkan yang lebih baik kelak, tapi rasanya harapan itu semakin abu-abu.
Peristiwa demi peristiwa semakin memburuk, sempat membaik akhir tahun lalu, kemudian memburuk lagi di awal tahun ini. Aku seperti dibawa ke masa-masa suram awal tahun lalu saat aku baru masuk kantor, apalagi dengan kondisi ku saat ini ketika sedang wfh alias work from home, aku benar-benar merasa useless being a (secret)ary. Disaat sekretaris lain sepertinya akur dengan atasannya, sayangnya aku tidak, komunikasi pun sekarang menjadi semakin jarang karena mungkin aku tidak dibutuhkan. Aku tidak tahu kenapa ini semua terjadi kepadaku, kenapa pula aku harus gagal lagi di tes CPNS saat aku merasa bahwa itu adalah harapanku satu-satunya saat ini agar aku bisa segera keluar dari kantor ini, tapi nyatanya, ZONK, harapan tidak sesuai realita.
Dear my Allah, aku tahu ini jalan hidupku, aku sadar ini adalah episode dalam hidup yang harus aku lalui, aku pun juga tahu aku seharusnya tidak boleh banyak mengeluh karena seharusnya di saat-saat seperti ini aku harus lebih banyak bersyukur dalam keadaan apapun. Bahagia, sedih, susah, senang, sukses dan gagal, ya aku mencoba untuk tegar, bangkit lagi dan lagi. Aku harap akan ada ujung yang baik dari episode cerita hidupku selama aku bekerja di Peruri. Aku tidak berharap banyak, hanya berharap supaya diberikan kekuatan dan petunjuk untuk melewati ini semua.
Once again, I hope there's any a very good ending of my story in Peruri.
Comments
Post a Comment